WARKOP
DKI REBORN
(Sebuah
Refleksi Kerinduan dan Nilai Sosial Kemasyarakatan)
*Oleh
Rian Yulianto, S.Pd.I
Masyarakat
Indonesia saat ini sangat merindukan dunia perfilm-an di masa lalu. Inilah yang
penulis baca dari keadaan masyarakat yang mengetahui informasi dari berbagai
media. salah satu yang menggemparkan informasi ini adalah Fanspage Facebook. Penulis
melihat sampai tulisan ini dibuat viewer-nya sudah mencapai 448.914
penonton. Jumlah sebanyak itu baru trailer-nya, belum film aslinya yang
ditayangkan di bioskop seluruh Indonesia. Ketika film diputar perdana pada
tanggal 8 September 2016 penonton di bioskop sudah membanjir mencapai hampir
300.000 penonton. Hal ini menandakan bahwa masyarakat rindu akan banyolan Trio
Warkop.
Di atas
hanya sedikit informasi mengenai gambaran pemutaran flm Warkop DKI Reborn. Di sini
penulis tidak akan menulis ceritanya secara ilmiah banget, takut dikira orang
pintar. Toh hanya amatir. Penulis berangkat dengan empat teman yang sangat
melonggarkan waktu dan biayanya, dia adalah Ferdi sang fotografer, Podang sang
guitaris dan Buyung si bocah ngapak dari Banjarnegara sang Konselor. Berangkat dari
kampus IAIN Surakarta dengan motor Megapro dan Shogun 125 SP. Walaupun terkendala
mogok wal hasil mendorong namun akhirnya sampai juga di Solo Square tempat kami
menonton film ini. Antrian panjang pun seperti biasa terjadi, ya karena memang
film ini sedang Booming ada yang niatnya ngajakin pacar atau istri dan
ada yang iseng cari hiburan seperti kami berempat.
Saat
itu kami duduk di tempat yang terpisah dan gak sabar untuk segera menyaksikan
film apik dari Falcon Pictures. Film pun diputar, aura warkop sangat
terasa ketika Mbah Indro menjadi pembaca berita dalam acara televisi “Dunia
dalam Berita”, beritanya informatif, namun tetap akhirnya gak jelas. Ya dari
gak jelas itulah banyolan-banyolan dalam film ini diawali. Penonton pun tertawa
terbahak, memang rindu akan lelucon dari mbah Dono, Kasino, dan Indro. Kemudian
muncullah ketiga aktor terpilih Indonesia untuk memerankan mbah DKI. Mereka adalah
Abimana sebagai Dono, Vino G. Sebastian sebagai Kasino dan Tora Sudiro sebagai
Indro.
Sekilas
mengenai bahasa yang mereka gunakan yaitu, Dono dengan bahasa khas Jawanya,
Kasino dengan khas bahasa Ngapaknya, dan Indro dengan bahasa khas Medannya. Ketiganya
sangat menikmati perannya, ya walaupun meniru sampai mirip itu susah. Salah satu
yang bikin penonton tertawa terbahak-bahak adalah Indro yang disumpahin menjadi
botak kemudian Mbah Indro benar-benar muncul, kemudian Kasino dengan
kata-katanya yang unik “Dasar Monyet Bau, Kadal Bintit, Muka Gepeng, Kecoa
Bunting, Babi Ngepet, Dinosaurus, Brontosaurus, Kirik....!!!! itulah yang
dirindukan masyarakat. Keren mereka bertiga.
“Jangkrik Boss” itulah tema yang disampaikan
pada Warkop DKI Reborn Part 1 ini. Mereka memerankan diri sebagai
CHIPS yang bekerja sebagai agen sosial yang bergerak dalam pelayanan
masyarakat. Gaya bicara si Boss yang
tidak bisa mengucapkan huruf “r” yang ketika marah malah membuat penonton
ketawa, mungkin pemerannya juga di Behind The Scene juga tertawa, karena
itu memaksakan. Hal ini ada sebuah nilai bahwa sesuatu hal yang dipaksakan
memang susah namun pasti bisa.
Kembali
ke cerita, film tersebut selain sebagai obat rindu bagi masyarakat namun juga
bernilai sosial masyarakat yang lumayan tinggi. Pada awalan-awalan pemutaran
ditayangkan adegan mengenai kemacetan Jakarta. Sebuah kota metropolitan yang sejak
dulu diminati masyarakat luar Jakarta untuk mengadu nasib di sana. Hal ini
merupakan pukulan keras kepada pihak pemerintah untuk menyelesaikan tragedi
macet di Jakarta, bahkan tempat yang keren dan alami pun sulit didapat di Jakarta.
Adegan yang juga merupakan sindiran adalah ketika para CHIPS masuk pada jalur
jalan yang satu arah yang berlawanan. Ini sebuah nasehat kepada aparat jangan
semena-mena, mentang-mentang punya posisi.
Masih
mengenai jalan, sindiran yang diperankan oleh Tora Sudiro sebagai Indro. Pada saat
itu Indro bersembunyi di sebuah semak, macam tentara yang akan berperang. Setelah
itu Indro menghadang orang di jalan untuk melakukan penilangan. Sebenarnya sudah
bagus niatannya untuk menertibkan masyarakat yang tidak tertib lalu lintas. Namun
pada akhirnya UUD tetap berlaku di sini, hukum itu bisa dibeli. (UUD sebuah
singkatan Ujung-ujungnya Duittttttttt).
Menggelitik
memang melihat adegan itu dan rakyat kebanyakan memilih jalan suap sebagai alternatif
agar tidak disidang di pengadilan. Itu adalah contoh kecil, belum lagi kasus
korupsi di negeri kita yang sampai saat ini belum usai karena oknum-oknum
tertentu. Yaaa, di sini penulis sebagai rakyat jelata memaklumi hal itu,
mungkin uangnya untuk membeli susu anaknya di rumah, walaupun anaknya udag
gede-gede tetep aje disusuin. Loe mah apaaaaa.....? Loe mah begitu.......?
terus2in ajeeeee......!!!! Neraka menanti...Oooppppzzzz....
Lanjut
ke adegan berikutnya, adegan jangkrik boss pun diperankan oleh Vino sebagai Kasino
dan Bossnya yang saat itu kepergok sedang mesum di kantor. Kejadiannya sama
persis ketika Kasino masa lalu memergoki bossnya yang sedang mesum, ketika itu
sang boss ditanya oleh Kasino “sedang apa boss?” Bos menjawab “Ada Jangkrik”. Namun
sang wanita masih terlihat oleh Kasino pada akhirnya Kasino menggunakan kode “Jangkrik
Boss” untuk meminta uang kepada bossnya. Kalau Kasino masa lalu sih cuma
limarebu, tapi Kasino masa kini sudah seratusrebu. Wooowwwww... Korban Inflasi
Orde Baru... Aduhhh, aku mikir anak cucuku kelak mungkin seratusrebu hanya
dapat semangkuk bakso. Na’udzubillah......
Adegan
yang selanjutnya masih dalam lingkup profesi mereka, antara karyawan dan boss. Boss
menilai kinerja mereka bertiga paling parah diantara yang lainnya. Kemudian boss
memanggilkan salah satu CHIP yang katanya dari cabang Prancis. Wowwww...
Gile.... Pemerannya cantik bener... Pada adegan itu si boss menyuruh mereka
bertiga untuk memecahkan kasus begal yang sedang ramai merebak.
Job Deskripsi sudah dibagi, mereka berpencar untuk mencari begal. Seperti
yang kita duga namanya juga komedi, mereka melakukan kesalahan yang bukan
memecahkan solusi namun menambah masalah.
Sangat
kacau situasinya dan memancing tawa penonton. Ada kakek dan nenek yang sedang
mencari cucunya, namun si Kasino dan Indro mengiranya begal, akhirnya mereka
mengejarnya dengan menggunakan mobil jeep nya. Akhirnya sang kakek dan nenek
menemukan cucunya. Apa yang terjadi setelah itu? Kasino dan Indro nekat untuk
menangkap kakek dan nenek itu, dan mengira mukanya adalah topeng. Sampai pada
akhirnya atas bujukan Indro masa depan mereka melepas topeng keduanya, dan
ternyata itu adalah muka, ditempel kembali namun salah pasang (KASUS 1)
Di lain
sisi, Dono dengan mesranya berboncengan dengan Sophia CHIPS wanita yang cantik
dan seksi. Dono melepaskan pegangan tangan di stangnya, kemudian layaknya film
Titanic mereka bermesraan, selepas itu mereka menabrak portal penutup jalan,
akhirnya mereka menyungsep, sama persis adegannya ketika Dono masa lalu
nyungsep di sebuah waduk kecil. Kemudian mereka berdua dimintai ganti rugi. (KASUS
2)
Selain
kasus di atas saya agak lupa urutannya, kefatalan yang sangat luar biasa
merugikan adalah ketika Dono dan Sophia mendapati seorang wanita yang terkena
jambret, kemudian Dono dan Sophia mengejarnya dan bertemu dengan Kasino dan
Indro dan akhirnya mereka berempat mengejar jambret dengan kecepatan yang luar
biasa, namun akhirnya mereka malah menabrak showroom sebuah pameran
lukisan yang mahal harganya. (KASUS 3)
Alhasil,
mereka bertiga disidang, saat itu yang berperan sebagai hakim adalah Agus
Kuncoro. Namanya juga film komedi, sidang berlangsung tidak tegang. Bahasa alay
dan kekinian pun muncul. Namun nilai kritik sosial terdapat di dalamnya,
seperti suap menyuap di pengadilan. Ada lagi sidang yang tak kunjung usai seperti
kasus Jessica dan Mirna. Menjadi hakim itu adalah kerjaan yang sangat rawan
resiko. Kalau jujur ya kelak masok sorga kalau tidak jujur ya siap-siap
aja..... :D
Mereka
bertiga akhirnya resmi menjadi terdakwa dengan hukuman 10 tahun penjara atau
membayar denda sejumlah 8 Milyar Rupiah. Hal ini dapat saya simpulkan bahwa
uang itu akan meringankan hukum bagi rakyat yang mempunyai uang, namun akan
menindas bagi rakyat miskin. Mereka bertiga hanyalah karyawan swasta, yang
bahkan membeli taplak meja saja harus kredit, yang anakannya setiap bulan akan
selalu bertambah.
Akhirnya
mereka bertiga menemui pakde Slamet, yang kelak yang namanya Slamet juga
diperankan oleh Dono masa lalu, anak seorang saudagar tembakau yang sangat kaya
raya ketika itu (masih ingatkah mas Slamet...????). mereka sowan ke
rumah Pakde Slamet untuk meminjam uang, dan yang menggemaskan adalah ketika
Pakde Slamet (ketika itu diperankan oleh Pak Tarsan) berbicara berulang-ulang
yang isinya kalian itu siapa? Ada perlu apa? Panas gini minum es leci enak kali
ya? Ndukkkkk... tolong buatin es tiga ya... ehhhh.. empat ding.... begitu
berulang-ulang sampai tiga kali. Akhirnya uang dalam koperpun dikeluarkan oleh
pakde Slamet untuk mereka bawa pulang.... Lhoooo... belum minum lhoooo...
hahahahaha
Setelah
keluar dari rumahnya pakde Slamet, mereka pun membuka isi koper yang berisi
uang mainan. Aduhhhh... apessss lagi ndrooooo...ndroooo... isinya uang
monopoli. Akhirnya uang itu diberikan kepada adek-adek yang minta-minta dan
buat bei jajan. Mereka bertiga dikira mengedarkan uang palsu... apesssss
lagiiii.. uang gak dapet, tambah kasus lagiiiii...
Kemudian
Sophia menawarkan untuk hutang kepada temannya, di tengah perjalanan naik Taxi
mereka mendapati kecelakaan maut yang luar biasa. Ternyata orang yang ditabrak
mempunyai sebuah dompet yang berisi peta harta karun. Untuk mendapatkannya
mereka harus pergi ke Malaysia dengan tidak sedikit biayanya. Akhirnya mereka
pun menjual aset-aset mereka sebagai uang saku dan transportasi ditanggung oleh
Sophia. Setibanya di Malaysia ternyata tas mereka yang berisi peta tertukar
oleh tas seorangwanita Malaysia. Mereka mengejarnya sampai mendapatkannya, dan
belum mendapatkan tas itu film sudah selesai. Selesai? Iya... Bersambung....
Sampai
jumpa di warkop selanjutnya... Masyarakat merindukanmu Mbah Dono, Mbah Kasino,
Mbah Indro....
regane piro tiket e
BalasHapus30ribu mas
BalasHapus