Postingan

Menampilkan postingan dari 2015
IRONI PERAYAAN TAHUN BARU (Sebuah Refleksi Masyarakat Berkarakter) *Oleh: Rian Yulianto, S. Pd. I. [1] Sudah menjadi sebuah kebiasaan masyarakat seluruh penjuru dunia merayakan tahun baru. Tidak jarang dari usia muda sampai yang tua merayakannya dengan berbagai berbagai jenis perayaan. Ada yang merayakannya dengan konvoi di jalanan, atau dengan mengajak anak-anak keluar rumah untuk melihat pemandangan kalayak ramai. Adapun hal negatif pada agenda tahunan ini adalah maraknya penjualan minuman keras, alat kontrasepsi dan alat-alat maksiat lainnya. Berita-berita yang memberitahukan tentang tragedi-tragedi di tahun sebelumnya akankah menjadi sebuah evaluasi pada tahun baru berikutnya? Ataukah hanya sebagai pemberitahuan belaka? Perayaan tahun baru bukanlah suatu hal yang negatif, namun implementasinyalah yang salah. Mengingat berita-berita baik cetak maupun elektronik yang terjadi di tahun sebelumnya, akankah hal-hal yang sama akan terulang? Inilah PR dari semua stakeholder s...

Hati dan Pengaruhnya terhadap Karakter

Pada masa globalisasi dan jaman teknologi semakin maju, manusia banyak yang menjadikan dunia seolah segala hal yang wajib dipenuhi. Manusia mengesampingkan qalbu nya dibandingkan keduniawiannya. Kondisi memang sudah berbeda dengan jaman dulu ketika   manusia belum mengenal globalisasi. Tantangan yang paling ngeri adalah ketika manusia mengesampingkan karakternya. Karakter sangat dekat dan erat dengan hati nurani kemudian menjadi tingkah laku yang baik atau buruk. Baik dan buruknya karakter adalah tergantung dari hati nuraninya yang paling mendominasi terhadap doktrinasi perbuatan manusia. Dalam erat kaitannya dengan hati, manusia sering lalai dalam hal ini. Hati merupakan anugerah ciptaan Allah, tanpa hati manusia tidak akan pernah merasakan hidup ini senang atu sedih, tidak bisa menilai hal itu baik apa buruk karena minimnya perasaan. Manusia sejak lahir dari kandungan ibunya sudah dibekali dengan penglihatan, pendengaran dan juga kebersihan hati. Tidak ungkin manusia lah...

Ideologi-ideologi Pendidikan Liberal

Gambar
Ideologi-ideologi Pendidikan Liberal Makalah Ini disusun Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah Sosiologi dan Politik Pendidikan Dosen Pengampu : Dr. H. Muh. Saerozi, M. Ag. Disusun Oleh: Rian Yulianto, S. Pd. I M1.14.033   PROGRAM PASCA SARJANA MAGISTER PENDIDIKAN AGAMA ISLAM INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SALATIGA 2015 BAB I PENDAHULUAN Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia ideologi berarti kumpulan konsep bersistem yg dijadikan asas pendapat (kejadian) yg memberikan arah dan tujuan untuk kelangsungan hidup, pendidikan mempunyai arti proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan. Sedangkan Liberal yaitu berpandangan bebas (luas dan terbuka). Istilah pendidikan sekarang meluas seiring dengan perkembangan jaman. ( kbbi.web.id/. ) Pada hakikatnya manusia mencari kesenangan atau kenikmatan serta kebahagiaan. Ini menuntut...
Tangisan Rembulan (Rian Yulianto)   Rembulan Tidakkah kau bisa bersinar Sinarmu menerangi malam  Menembus awan hitam nan gulita Sendiri kau di sana  Berada di antara bintang-bintang yang menghiasi sekitarmu Oh Rembulan, Cahayamu meredup dan semakin meredup Bak menghilang Di mana kau saat ini Orang-orang menantimu Muncullah kembali untuk menerangi Terangi senja di hari esok, lusa dan selamanya Rembulan  Mengapa kau menangis Sementara kau harus riang dan tersenyum Menghibur hati yang kalut Tak berani ku mendekatimu saat ini Rembulan Orang-orang disekitarmu merindukanmu Kembalilah ceria  Agar dunia terasa surga (Surakarta, 12 Maret 2015)    

Adakah tokoh yang memunculkan lelucon baru dan inspiratif lagi?

Gambar
Siapa yang tidak kenal dengan tokoh yang satu ini? Tokoh yang terkenal dengan berbagai lelucon dan kontroversinya. Ya, benar dialah KH. Abdurrahman Wahid seorang Putera dari KH. Wahid Hasyim atau cucu dari KH. Hasyim Asy’ari (Pendiri organisasi Nahdhatul Ulama). Beliau adalah sosok inspiratif yang muncul memang karena berbagai kontroversinya. Bahkan saking kontroversinya beliau pernah menjabat sebagai orang nomor satu di Republik ini yaitu sebagai Presiden Indonesia yang ke-3 setelah lengsernya BJ. Habibie. Nama kecilnya sebenarnya adalah Abdurrahman Ad-Dakhil namun karena mengikuti ayahnya maka nama besarnya diganti menjadi Abdurrahman Wahid, dan selanjutnya dikenal dengan nama Gus Dur. Gus Dur kecil lahir di Jombang, 4 Agustus 1940 dan terlahir dengan posisi darah biru pesantren. Sejak masih muda Gus Dur sudah diajarkan oleh ayahnya untuk memahami dan membaca buku-buku, majalah-majalah yang dibuat oleh orang-orang non Islam, agar mempunyai pengetahuan, karena apabi...