Strategi Pembelajaran dalam Al-Qur'an
STRATEGI PEMBELAJARAN
QS.
An-Nur : 39
tûïÏ%©!$#ur (#ÿrãxÿ2 öNßgè=»uHùår& ¥>#uy£x. 7pyèÉ)Î/ çmç7|¡øts ãb$t«ôJ©à9$# ¹ä!$tB #Ó¨Lym #sÎ) ¼çnuä!$y_ óOs9 çnôÅgs $\«øx© yy`urur ©!$# ¼çnyZÏã çm9©ùuqsù ¼çmt/$|¡Ïm 3 ª!$#ur ßìÎ| É>$|¡Ïtø:$# ÇÌÒÈ
39. dan orang-orang kafir amal-amal mereka adalah laksana
fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang
dahaga, tetapi bila didatanginya air itu Dia tidak mendapatinya sesuatu apapun.
dan didapatinya (ketetapan) Allah disisinya, lalu Allah memberikan kepadanya
perhitungan amal-amal dengan cukup dan Allah adalah sangat cepat
perhitungan-Nya[1042].
Allah
SWT telah menyebutkan dalam ayat ini bahwa segala perbuatan orang-orang kafir
adalah sia-sia, tidak mendapatkan apa-apa karena perbuatan mereka laksana
fatamorgana. Di sni ayatnya menjelaskan tentang kelompok yang bertolak belakang
dengan kelompok Hamba-hamba Allah yang taat. Ayat ini menyatakan bahwa orang
kafir yang sudah buta mata dan hatinya sehingga tidak mampu memandang cahaya Ilahi
yang amal itu kelak hanya akan menjadi fatamorgana
di tanah air yang datar bagaikan di padang pasir yang disangka di sana
banyak air; namun setelah sampai pada tempatnya hanyalah menghasilkan dahaga
dan keletihan yang luar biasa.
Kata
saraba adalah apa yang dilihat di
padang luas yang terbentang berkilau bagaikan air, setiap mendekat kepadanya
hal itu pun akan semakin terlihat menjauh dari hadapan kita. Kata yang dipilih
dalam ayat ini mengisyaratkan bahwa seseorang yang berjalan menuju kea rah fatamorgana
tidak akan pernah akan sampai kepadanya. Ayat ini juga menginformasikan bahwa
orang-orang kafir itu menduga dan mengharapkan bahwa amal-amal mereka itu dapat
mengantarkan mereka meraih keberhasilan yang secar naluriah menjadi dambaan
setiap orang yakni kebahagiaan. Namun ternyata amal-amal tersebut ridak akan
mengantarkan ke sana.
Ayat
ini menurut ulama itu mengibaratkan amalan rang kafir seperti fatamorgana
sedang mereka sendiri dipersamakan dengan orang yang sangat haus, padahal air
sejuk yang memandangkan dahaga tersedia di hadapannya. Ini karena dia
menolaknya dan enggan mendengar siapa menasehati dan mengajaknya utuk meminum
air tersebut. Selanjutnya kesudahan yang dialaminya denan perteman dengan Allah
ketika ajalnya tiba, serta berakhirnya segala usaha kesudahan itu disamakan
dengan orang yang sedang dahaga yang kemudian akan menuju kepada fatamorgana.
Demikianlah orang-orang kafir yang lengah menyangkut Allah SWT dan mengabaikan
amal-amal yang mengantar untuk meraih cahaya Ilahi serta kebahagiaan yang
hakiki.
QS.Al-Baqarah :261
ã@sW¨B tûïÏ%©!$# tbqà)ÏÿZã óOßgs9ºuqøBr& Îû È@Î6y «!$# È@sVyJx. >p¬6ym ôMtFu;/Rr& yìö7y @Î/$uZy Îû Èe@ä. 7's#ç7/Yß èps($ÏiB 7p¬6ym 3 ª!$#ur ß#Ïè»Òã `yJÏ9 âä!$t±o 3 ª!$#ur ììźur íOÎ=tæ ÇËÏÊÈ
261. perumpamaan (nafkah yang
dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah[166]
adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap
bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki.
dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha mengetahui.
Ayat
ini turun sebagaimana disebut-sebut dalam sekian riwayat menyangkut
kedermawanan Usman bin Affan dan Adurrahman bin Auf ra. Yang datang membwa
harta merek untuk membiayai perang Tabuk. Bahwa ayat ini turun menyangkut
mereka bukanlah berarti bahwa ia bukan janji Ilahi terhadap setiap orang yang
menafkahkan menafkahkan hartanya dengan tulus. Di sisi lain walaupun ayat ini
berbicara tentang kasus yang terjadi pada masa Nabi Muhammad saw., sedangkan
ayat yang lalu berbicara tentang kasus yang terjadi pada masa Nabi Ibrahim as.,
yang jarak waktunya berselang ribuan tahun, tetapi dari segi penempatan urutan
ayatnya ditemukan keserasian yang sangat mengagumkan.
Dalam
hidup di dunia manusia wajib saling tolong menolong, saling melengkapi, maka
dari itu mereka haruslah beragam dan berbeda-beda agar mereka saling
membutuhkan . yang tidak mampu dalam satu bidang dibantu oleh bidang lain yang
mumpuni. Ayat ini berpesan kepada yang berpunya agar tidak merasa berat
membantu karena apa yang dinafkahkan akan tumbuh berkembang dengan berlipat
ganda.
Perumpamaankeadaan
yang sangat mengagumkan dari orang-orang
yang menafkahkan harta mereka dengan tulus di jalan Allah, adalah serupa dengan keadaan yang sangat mengagumkan
dari seorang petani yang menabur benih. Sebutir
benih yang ditanamnya menumbuhkan tujuh
butir, dan pada tiap butir terdapat
seratus biji.
Dengan
perumpamaan yang mengagumkan itu, sebagaimana dipahami dari kata matsal, ayat ini mendorong kepada mansia
untuk berinfak. Bukankah jika ia menanam butir benih di tanah, tidak lama
kemudian ia akan mendapatkan benih itu tumbuh berkembang sehingga menghasilkan
buah yang sangat bayak. Dalam ayat ini menyebut angkan tujuh. Ayat tersebut
tidak harus dipahami dalam artian angka yang di atas enam dan di bawah delapan,
tetapi ia serupa dengan istilah seribu satu yang bukan berarti angka di atas
1000 dan di bawah 1002. Kedua angka ini berarti banyak. Bahkan, pelipat gandaan
itu tidak hanya tujuh ratus kali melainkan lebih daripada itu, karena Allah terus melipatgandakan bagi sia yang
Dia kehendaki.
Daftar
Pustaka :
Sayyid Quthb, Fii Zhilalil Qur’an,
Jakarta : Gema Insani. 2004
M.
Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur’an,
Jakarta : Lentera Hati, 2010
Departemen Agama RI, Al-Quran dan
Tafsirya, Jakarta : Lentera Abadi. 2010
Komentar
Posting Komentar