Hati dan Pengaruhnya terhadap Karakter
Pada
masa globalisasi dan jaman teknologi semakin maju, manusia banyak yang
menjadikan dunia seolah segala hal yang wajib dipenuhi. Manusia mengesampingkan
qalbunya dibandingkan keduniawiannya. Kondisi memang sudah berbeda
dengan jaman dulu ketika manusia belum
mengenal globalisasi. Tantangan yang paling ngeri adalah ketika manusia
mengesampingkan karakternya. Karakter sangat dekat dan erat dengan hati nurani
kemudian menjadi tingkah laku yang baik atau buruk. Baik dan buruknya karakter
adalah tergantung dari hati nuraninya yang paling mendominasi terhadap
doktrinasi perbuatan manusia. Dalam erat kaitannya dengan hati, manusia sering
lalai dalam hal ini.
Hati
merupakan anugerah ciptaan Allah, tanpa hati manusia tidak akan pernah
merasakan hidup ini senang atu sedih, tidak bisa menilai hal itu baik apa buruk
karena minimnya perasaan. Manusia sejak lahir dari kandungan ibunya sudah
dibekali dengan penglihatan, pendengaran dan juga kebersihan hati. Tidak ungkin
manusia lahir dengan hati yang kotor, tidak mungkin pula manusia lahir dengan
hati yang mengenal kemusyrikan. Hati yang bersih membutuhkan pelatihan dan
pengajaran dari lingkungan yang berhati bersih juga, sebagai contoh orang tua
yang selalu mengajarkan anaknya berbuat kebaikan maka dengan hati nurani yang
dimiliki manusia akan baik pula selanjutnya, karena niatnya sudah tertancap
dalam hati.
Manusia
sebagai makhluk yang paling sempurna dibandingkan dengan makhluk yang lainnya,
oleh sebab itu nurani dan akal yang dianugerahkan wajib disyukuri dengan menggunakan
hati dengan sebaik-baiknya. Hati yang baik akan menuntun pada akhlak yang
mulia, sedangkan hati yang buruk akan mengakibatkan akhlak yang buruk pula.
Inilah tantangan era global saat Ilmu Pengetahuan dan Teknologi semakin
berkembang orang akan semakin sulit untuk berbuat baik, karena hanya mengejar
hal yang berbau duniawi. Untuk mengetahui pembagian hati maka hati itu dibagi
menjadi tiga hal:
Pertama,
hati yang selamat dari kemusyrikan dan kotornya atau disebut qalbun salim,
hati yang satu ini akan terselamatkan dari hal yang buruk, karena selalu
terjaga keasliannya dalam hal tauhid. Orang yang termasuk dalam kategori qalbun
salim ini selamanya hidupnya akan tenang dan jauh dari rasa bimbang.
Termasuk dalam hal ini adalah menyeru kepada manusia agar sifat mencintai
Tuhannya semakin melekat di hati, sehingga apa yang dilakukan adalah selalu
sesuai dengan sifat keagamaan yang kuat. Kilas balik pada keadaan manusia jaman
sekarang banyak yang hatinya selalu bimbang karena kurang percaya pada nasib
yang sudah digariskan Tuhan dan bertingkah laku sesuai kehendaknya sendiri.
Kedua,
hati
yang keras atau qalbun qaswah, kekerasan hati manusia bukan dikarenakan
sifat bawaan lahir, melainkan sifat akibat dari kelalaian manusia selalu
melanggar norma-norma agama. Tingkat kerusakan ini mempunyai tahapan, tahap
demi tahap semakin tinggi kadar pelanggaran yang dilakukan maka Allah semakin
menutup hatinya akibat dari perbuatannya. Lanjut dan semakin berlanjut maka
hati akan mati (na’udzubillah). Semakin hati mati, maka hati akan
mengeras seperti batu, tidak mungkin tersadarkan oleh doktrin sebaik apapun. Pada
tingkatan yang separah ini wajar apabila manusia mengikuti hatinya yang sudah
mati dan akhirnya setanlah yang menguasai hatinya.
Sebagai
contoh riil dari matinya hati adalah menengok pada masyarakat yang warganya
suka mabuk atau judi misalnya, dirinya akan terbelenggu pada doktrin bahwa
dengan mabuk atau judi maka hidupnya akan tenteram, padahal hal itu merupakan
kejahatan yang mendhalimi diri sendiri. Apabila perbuatan itu sudah melekat
dalam hati maka sekuat apapun nasehat tidak akan mempan, dan selamanya akan
mengikuti bisikan setan. Contoh lain tentang menurunnya moral karena matinya
hati adalah korupsi, ketika koruptor mengambil uang rakyat itu sama saja dengan
matinya hati yang sangat parah. Karena agama sudah melarang bahwa mencuri itu
berdosa maka selanjutnya akan dapat siksa di neraka, namun apabila manusia
sudah masuk pada ranah qalbun mayyitun maka selamanya akan dilanggar dan
terjadilah korupsi.
Ketiga,
qalbun maridhun merupakan sakitnya hati, hati ini masih
hidup tapi lebih pada cacat. Lihat orang yang cacat kakinya, ia masih mampu
berjalan namun tidak sesempurna yang normal kakinya. Atau lihat pada anak yang
cacat mental, ia masih bisa berpikir bahkan bisa berpikir keras namun tidak
bisa sesempurna anak yang normal. Hal itu sama dengan hati yang sakit, penyakit
hati biasanya diidentikkan dengan sifat iri, dengki dan lemah imannya. Hati yang
sakit akan bisa menjadi hati yang sehat apabila dorongan baik mendominasinya. Bahkan
sebaliknya, hati ini akan cenderung menjadi keras apabila dorongan untuk
melakukan kejahatan mendominasinya
Dari
ketiga penggolongan hati di atas dapat diartikan bahwa hati akan mempengaruhi
baik buruknya kualitas manusianya. Hati yang selalu mendekat kepada Tuhannya
karena iman maka akan semakin baik pula kesehariannya, selalu terlindungi iman
dan selalu berbuat baik. Semakin hati itu sakit dan keras maka hati itu
lama-lama akan menjadi hati yang mati dan enggan untuk berbuat baik karena
menjauh pada Tuhannya. Dari itu dapat ditarik kesimpulan bahwa hati yang baik
akan mempengaruhi karakter yang baik. Karakter itu lebih membentuk pada hal yang
baik atau buruk, maka dengan memperbaiki hati dan menanamkannya sejak dini maka
manusia akan terbiasa dengan karakter yang baik sesuai dengan ajaran agama. Agama
apapun akan mengajarkan manusia kepada yang lebih baik, bukan mengajarkan hal
yang buruk.
Komentar
Posting Komentar