IRONI PERAYAAN TAHUN BARU
(Sebuah Refleksi Masyarakat Berkarakter)

*Oleh: Rian Yulianto, S. Pd. I.[1]

Sudah menjadi sebuah kebiasaan masyarakat seluruh penjuru dunia merayakan tahun baru. Tidak jarang dari usia muda sampai yang tua merayakannya dengan berbagai berbagai jenis perayaan. Ada yang merayakannya dengan konvoi di jalanan, atau dengan mengajak anak-anak keluar rumah untuk melihat pemandangan kalayak ramai. Adapun hal negatif pada agenda tahunan ini adalah maraknya penjualan minuman keras, alat kontrasepsi dan alat-alat maksiat lainnya. Berita-berita yang memberitahukan tentang tragedi-tragedi di tahun sebelumnya akankah menjadi sebuah evaluasi pada tahun baru berikutnya? Ataukah hanya sebagai pemberitahuan belaka?
Perayaan tahun baru bukanlah suatu hal yang negatif, namun implementasinyalah yang salah. Mengingat berita-berita baik cetak maupun elektronik yang terjadi di tahun sebelumnya, akankah hal-hal yang sama akan terulang? Inilah PR dari semua stakeholder semua lapisan masyarakat yang berperan aktif baik yang berperan langsung maupun tidak langsung. Peran secara langsung adalah pemerintah yang terlibat, seperti Polisi, Satpol PP dan yang lain yang terlibat. Peran secara tidak langsung adalah masyarakat dan yang terlibat di dalamnya, seperti pemuda yang biasanya keluar dari malam sampai pagi di hari itu dengan alasan merayakan agenda tahunan yang hanya setahun sekali dengan wujud bersenang-senang.
Dengan maraknya kemaksiatan yang terjadi di pergantian tahun yang super istimewa ini akankah memilih hal yang positif atau negatif? Bukan berarti bertemu dengan teman-teman keliaran sampai pagi itu negatif, namun penulis menilai dari segi substansi. Berkumpul dengan teman-teman dengan perbuatan positif itu akan membentuk silaturrahmi, namun berkumpul dengan teman-teman dengan hal negatif itu akan berbuah maksiat yang lebih dari hari-hari sebelumnya. Di sinilah peran orang tua terhadap pengawasan anaknya, tidak lupa juga melibatkan kesadaran oknum pemuda yang berkeliaran di malam hari di tahun baru. Apabila terjadi kekompakan antar stakeholder ini, maka hal itu akan meminimalisasi terjadinya kemaksiatan yang berlebihan.
Sulit memang membendung hal ini, karena hal ini adalah dianggap sebagai agenda tahunan. Harus ada penekanan tentang karakter yang baik atau akhlak karimah sejak dini. Apabila kebiasaan buruk itu sudah bisa diminimalisasi sejak dini maka ketika besar akan terbiasa dengan perbuatan baik. Sungguh ironi rasanya ketika mendengar berbagai kenakalan dan penyimpangan yang terjadi pada masyarakat ketika mengadakan agenda tahunan ini. Perlu pembenahan karakter untuk investasi generasi masa depan dan ini membutuhkan sebuah kerjasama antar pihak baik itu orang tua, guru, kebijakan hukum, pemerintah dan lain sebagainya.



[1] Penulis adalah Mahasiswa Pascasarjana IAIN Salatiga, sekarang mengajar di SMA Prawira Martha Kartasura

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Model Penelitian Tasawuf (Telaah Buku Ibnu Arabi : Wahdat Al-Wujud Dalam Perdebatan oleh DR. Kautsar Azhari Noor)