UJIAN AKHIR
SEMESTER GASAL

Makalah ini disusun guna memenuhi tugas
mata kuliah
Supervisi Pendidikan
Dosen Pengampu:
Dr. Rahmat
Hariyadi, M.Pd.
Oleh:
Rian Yulianto, S.Pd.I.
M1.14.033
PROGRAM PASCA SARJANA
MAGISTER PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
IAIN SALATIGA
2016
UJIAN
AKHIR SEMESTER GASAL
PROGRAM
MAGISTER PENDIDIKAN AGAMA ISLAM PPS IAIN SALATIGA
TAHUN
AKADEMIK 2015/2016
*Oleh:
Rian Yulianto, S. Pd.I.[1]
Supervisi
adalah sebuah sistem pengawasan, mengontrol dan juga mengevaluasi jalannya
pendidikan pada sebuah lembaga pendidikan. Hal ini diperlukan karena
pendidikan merupakan organisasi non-laba yang harus selalu ada
penguatan terhadap mutu dan kualitas pendidikan Indonesia yang bertujuan
mencerdaskan kehidupan bangsa, sehingga tercipta sumberdaya manusia yang cerdas
dan berakhlakul karimah. Maka dari itu, perlu adanya pengawasan dan supervisi
yang sesuai dengan keinginan dan cita-cita bangsa.
Dalam
menjaga mutu proses tersebut, diperlukan adanya quality controll yang mengawasi
jalannya proses dan segala komponen pendukung- nya. Meski demikian pengawasan
mutu dalam dunia pendidikan tentu berbeda dengan peruasahaan yang memproduksi
barang/jasa. Sekolah adalah sebuah people changing institution, yang dalam
proses kerjanya selalu berhadapan dengan uncertainty and interdependence.[2]
Maksudnya mekanisme kerja (produksi) di lembaga pendidikan secara teknologis
tidak dapat dipastikan karena kondisi input dan lingkungan yang tidak pernah
sama. Selain itu proses pendidikan di sekolah juga tidak terpisahkan dengan
lingkungan keluarga maupun pergaulan peserta didik.
Dalam situasi demikian, maka pengawasan
terhadap sekolah pasti berbeda model dan pendekatannya. Peran seorang pengawas
pendidikan pun tentu berbeda dengan pengawas pada perusahaan produksi. Oliva[3]
menjelaskan ada empat macam peran seorang pengawas atau supervisor pendidikan,
yaitu sebagai: coordinator, consultant, group leader dan evaluator.
Supervisor harus mampu mengkoordinasikan programs, goups, materials, and
reports yang berkaitan dengan sekolah dan para guru. Supervisor juga harus
mampu berperan sebagai konsultan dalam manajemen sekolah, pengembangan
kurikulum, teknologi pembelajaran, dan pengembangan staf. Ia harus melayani
kepala sekolah dan guru, baik secara kelompok maupun individual. Ada kalanya
supervisor harus berperan sebagai pemimpin kelompok dalam pertemuan-pertemuan
yang berkaitan dengan pengembangan kurikulum, pembelajaran atau manajemen
sekolah secara umum. Terakhir, supervisor juga harus melakukan evaluasi
terhadap pengelolaan sekolah dan pembelajaran pada sekolah-sekolah yang menjadi
lingkup tugasnya.
Dari
berbagai penjelasan dapat diambil sebuah ilustrasi bahwa seorang pengawas atau
supervisor harus menguasai tujuan dari seorang pengawas dan tujuan diadakannya
pengawasan. Dalam sebuah pengawasan seharusnya seorang pengawas mempunyai
sebuah perencanaan yang matang dan mempunyai target atau sasaran yang ditempuh
selama dia menjadi seorang pengawas.
Hal
di atas sejalan dengan pendapat dari Floyd C. Mann
sebagaimana dikutip Oliva[4] referred to the skills needed by supervisors as a “skill-mix,” consisting of technical, managerial, and human relations skills. Yang berarti bahwa seorang supervisor harus keahlian yang bisa juga diartikan seorang supervisor harus mempunyai keahlian campuran yaitu:
sebagaimana dikutip Oliva[4] referred to the skills needed by supervisors as a “skill-mix,” consisting of technical, managerial, and human relations skills. Yang berarti bahwa seorang supervisor harus keahlian yang bisa juga diartikan seorang supervisor harus mempunyai keahlian campuran yaitu:
1)
Membuat teknik tindakan
Dalam hal ini bisa diartikan
bahwa seorang supervisor adalah sebagai penindak kebijakan terhadap sebuah apa
yang direncanakan oleh supervisor itu sendiri.
2)
Managerial
Seorang supervisi harus memiliki jiwa me-manage agar semuanya tertata dengan rapi. Hal ini bisa dilakukan
oleh para supervisor baik dari kepala sekolah maupun supervisor dalam atian
pengawas sekolah. Dengan cara ini diharapkan seorang supervisor mampu untuk merencanakan
(planning), melaksanakan dan juga
mengevaluasi sehingga terjadi perbaikan. Dengan manajerial yang rapi, maka
diharapkan pengawas atau supervisor akan berhasil dalam hal ini.
3)
Human
Relation Skill
Hal ini juga tidak kalah penting dengan kedua keahlian di atas, dan
bahkan bisa sebagai landasan utama, karena berbicara mengenai pengawsan,
seorang supervisor harus mampu menguasai teknik pengawasan yang tepat dengan
komunikasi yang baik. Dengan istilah Jawa yaitu nguwongke-uwong, karena sejatinya manusia baik berada di posisi
atas maupun bawah dirinya akan merasa terhormat saat dihormati orang lain dan
menjadi kebanggaan tersendiri.
Dengan ciri keahlian di atas, maka supervisor
akan tahu apa yang hendak dikerjakannya, apa yang harus ditempuhnya, sehingga
pengawasan yang nyaman pun bisa tercapai. Hal itu mengingat supervisor adalah
mempunyai posisi di atas para guru, jadi tidak boleh terjatuh ke arah bawahnya
yaitu guru. Supervisor di sini bisa diartikan kepala Sekolah maupun pengawas
yang ditugaskan pada suatu sekolah.
Mengingat pengertian supervisi menurut Menurut
Made Pidarta, supervisi pendidikan adalah kegiatan membina para pendidik dalam
mengembangkan proses pembelajaran termasuk segala unsur penunjangnya.[5]
Dari definisi diatas maka supervisi yaitu batuan yang diberikan kepada personal
untuk mengembangkan proses pendidikan yang lebih baik dan upaya meningkatkan
mutu pendidikan.
Berikut beberapa keahlian dan
pengetahuan yang wajib dimiliki oleh supervisor sebagaimana dikutip dari Oliva:[6]
1. A sound general education program/ sebuah
perkiraan program pendidikan secara umum
2. A thorough preservice professional education
program/ melayani sebuah program yang profesional yang diteliti dengan
seksama
3. A major field of study/
mempunyai studi lapangan yang luas atau pengalaman yang luas
4. A solid graduate program in supervision/
mempunyai program lulusan supervisi yang kuat
5. Three to five years of successful teaching
at the elementary, middle, or secondary/ tiga sampai lima tahun sukses
mengajar di sekolah dasar, menengah ataupun tinggi
6. school level.
Tingkatan sekolah atau jenjang sekolah yang tinggi.
Dalam sebuah pelayanan supervisi
baik sebelum maupun sesudah, supervisor harus mengembangkan beberapa hal di
bawah ini:[7]
1.
Learning
theory and educational psychology atau teori pendidikan dan
psikologi pendidikan
2. Philosophy of education/
Filsafat pendidikan
3. History of education, especially of
curriculum and instructional development/ sejarah pendidikan, khususnya
kurikulum dan pengembangan instruksional
4. The role of the school in society/ peran
sekolah terhadap masyarakat
5. Curriculum development/ pengembangan
kurikulum
6. Instructional design and methods/ desain
instruksional dan berbagai metode atau metodologi
7. Group dynamics/ grup
yang dinamis
8. Conferencing and counseling/
mengkonferensikan dan konseling
9. Assessment of teacher performance/
pernyataan penampilan para guru di sekolah
Dengan mengetahui berbagai
keahlian yang harus dimiliki di atas maka bisa disimpulkan bahwamenjadi seorang
supervisor bukanlah pekerjaan yang mudah dan juga bukan pekerjaan yang instan.
Seluruhnya terdapat proses yang tujuannya adalah membantu para guru agar mampu
untuk menjadi guru yang ideal dan juga excellent atau gemilang dan juga
menjadikan supervisor sebagai gurunya guru yang bisa menyesuaikan keadaan para
guru yang notabene-nya adalah para orang dewasa yang terkadang susah
dinasehati.
TABEL
PERMASALAHAN DAN TINDAKAN SUPERVISOR
|
Permasalahan
|
Teori
yang digunakan untuk memahami permasalahan
|
metode/Model/Teknik
Supervisi yang bisa diterapkan serta alasannya
|
Pendekatan
dalam Supervisi serta alasannya
|
|
Kebanyakan
guru baru memiliki permasalahan dalam kepercayaan diri, penguasaan materi dan
manajemen kelas
|
Glickman, 2002, Leadership for learning : how
to help teachers succeed, di situ dinatakan bahwa pola pikir abstrak guru
cenderung rendah.
|
Lebih tepat menggunakan supervisi manajerial
dengan teknik supervisi individu, misal dilakukan oleh kepala sekolah sebagai
supervisi, menggunakan metode ini karena ini akan lebih efektif, karena guru
baru biasanya sedang dalam pencarian jati dirinya.
|
Pendekatan Direktif atau pendekatan langsung,
hal ini dilakukan karena sudah harus ditangani secara serius, karena apabila
seorang guru tidak menguasai materi itu akan berakibat fatal.
|
|
Guru
PAI di berbagai sekolah/ Madrasah “enggan” menerapkan pembelajaran PAKEM
meskipun sudah mendapatkan pelatihan
|
Glickman, 2002, di situ guru diklasifiksikan rendah komitmen dan
biasanya guru yang seperti ini cenderung mau menerima gaji namun malas untuk
mengajar.
|
Dengan menggunakan metode supervisi klinis,
karena dengan metode supervisi klinis akan mengobati segala hal yang ganjal,
karena tipe guru yang seperti ini adalah termasuk rendah komitmen dan juga
rendah dalam hal pola pikir abstrak.
|
Pendekatan
Kolaboratif, karena guru tersebut sudah lemh komitmen dan
juga pola pikir abstraknya, termasuk guru yang confused dan wajib diarahkan dengan colaborative approach agar bisa seimbang pengetahuan dan
komitmennya.
|
|
Banyak
guru senior tidak lagi memiliki semangat tinggi dalam mengajar, mereka
sekedar menjalankan rutinitas mengajar tanpa inovasi
|
Dalam buku Glickman, 2002, Ini termasuk guru
yang masuk dalam kategori energy expended atau malas untuk mengeluarkan
energy, hanya karena alasan sudah tua dan ini sering terjadi di realitanya.
|
Dengan supervisi klinis, karena ini sudah
termasuk guru yang berpenyakit antara penyakit malas disamping itu juga
penyakit merasa senior dan capek. Maka harus disembuhkan
|
Dengan
Non Direktif, karena dalam hal ini guru tersebut merasa
tua, bahkan lebih tua dari supervisor, dengan pendekatan ini maka supervisor
tidak dengan menggurui namun cukup dengan motivasi.
|
DAFTAR
PUSTAKA
Glickman,
Carl D, 2002, Leadership for learning :
how to help teachers succeed
Made Pidarta,
1999, Pemikiran Tentang Supervisi
Pendidikan, Jakarta: Bumi Aksara.
McPherson, Crowson and
Pitner, 1986, Managing Uncertainty: Administrative Theory and Practice in
Education. Columbus, Ohio: Charles E. Merrill Pub. Co.
Oliva, Peter F. 1984. Supervision For Today’s School. New York:
Longman.
[1] Penulis adalah Mahasiswa
Pascasarjana IAIN Salatiga, ditulis guna memenuhi tugas akhir semester gasal
2015/2016
[2] McPherson, Crowson and
Pitner, 1986, Managing Uncertainty: Administrative Theory and Practice in
Education. Columbus, Ohio: Charles E. Merrill Pub. Co.: 33-40
[3]
Oliva, Peter F. 1984. Supervision For Today’s School. New York: Longman.
19-20
[4] Oliva,,,. 22
[5] Made Pidarta, 1999, Pemikiran Tentang Supervisi Pendidikan, Jakarta: Bumi Aksara. 2
[6] Oliva,,,. 25
[7] Oliva,,,. 25
Komentar
Posting Komentar