GURU(webe)KU SAYANG,
GURU(webe)KU MALANG
Dalam hal ini penulis
mengajak semua yang berada di jajaran pendidikan dari tataran bawah atau guru
sampai tataran atas atau menteri pendidikan. Tulisan ini diharapkan mampu
sedikit memberi wacana yang tidak hebat-hebat banget dan juga tidak kudet/
kurang up to date banget. Ya setidaknya penulis pernah berjuang di dunia
pendidikan, walaupun hanya tingkat dasar atau SD. Tapi itu bukan inti
permasalahannya, penulis Cuma ingin bercerita sedikit pengalaman baik yang menyenangkan
maupun memilukan. Wacana pendidikan saat ini sangat luar biasa kita dengar, ya
walaupun hanya sruweng-sruweng di telinga sih. Fokus dari tulisan ini
adalah pendidikan di sekolah
Guru adalah sebuah
profesi yang menyenangkan dan sekaligus berpahala yang berupaya mencerdaskan
kehidupan bangsa. Kesabaran mereka sangat luar biasa dan pasti diakui oleh
seluruh lapisan masyarakat. Sungguh dosa besar dan bahkan zhalim kalau
kesabaran guru tidak diakui. Guru adalah sebuah pekerjaan yang berat, pencetak
generasi masa depan yang mengajari membaca dari A sampai Z, yang mengajari
nyanyi Dari Sabang sampai Merauke. Yang mengajari angka 0 hingga 9 dan banyak
lagi suatu hal yang diajarkan oleh pejuang-pejuang pendidikan kita. Entah apa
kata orang, ini adalah luar biasa, mereka dengan ikhlas mengajar anak dari yang
tadinya cuma bisa nangis terus kemudian jadi pribadi terdidik. Yaaaa, walaupun
kadang atau bahkan sering gajinya hanya bisa untuk membeli kuota internet yang
termurah. Namun senyum mereka tetap ceria tanpa harus merayu memandang kepada
setiap murid yang datang.
Berbicara mengenai guru
(webe) merupakan salah satu wacana ironis dan kasihan. Gelar yang sama-sama
sarjana, berangkat dengan baju yang sama, jam yang sama, pulang dengan jam yang
sama dan bahkan tugasnya melebihi yang sudah dipercayai pemerintah dan digaji
pemerintah dengan uang rakyat (maaf....PNS). Bayangkan saja misal kita
sama-sama mencangkul di sawah, dengan bagian yang sama namun bayarannya beda
pasti mereka akan pacul-paculan di sawah. Lha kalau guru bisa apa? Mau
coret-coretan pake kapur? Gak mungkinlah. Ini namanya sebuah ketidakadilan.
Kalau saya boleh fulgar itu memang gak memper istilah lainnya tidak
berkemanusiaan dan berkeadilan. Ah, bicara keadilan memang susah. Bayaran 250rb
misalnya, buat apa? Buat beli kuota saja kurang lho, apalagi di era virtual
ini. Sungguh kasihan...
Bayangkan lho
bayangkan, mereka kuliah selama 4 tahun belum lagi kalau sekripsinya molor
sampe semester 14. Guru oh guru, sungguh malang nasibmu. Belum lagi guru yang
mengajar di sekolah yang sok full day atau apalah itu. waktu berangkat
jam 7 pulang jam 4 sore, kerjanya lho 9 jam gajinya lho kalah sama yang bekerja
di pabrik yang biasanya hanya lulusan SMP atau SMA. Ini guru bekerja di
perusahaan manusia gaji segitu mau di bawa ke mana pendidikan kita. Ya, penulis
sangat membenarkan semua untuk meraih ridho Tuhan yang Maha Esa. Tapi
embel-embel cap pengabdian tidak bisa untuk membeli sebutir beras. Uang saku
siswa saja dikalikan selama satu bulan bis saja 2 kali lipat dari gaji guru.
Guru oh guru, di
sekolahan waktumu disita, sampai rumah tenagamu sudah capek, mau kerja sambilan
sudah tidak ada waktu. Bahkan ada yang bela-belain sambil ngeles, jualan
online. Sungguh kejam negeri ini, kejam dirimu sungguh kejam. Generasi bangsa
tidak akan ada tanpamu, bayangkan saja misal seorang presiden kalau tanpamu ohh
guru apa dia bisa? Jawabannya jelas, TIDAK MUNGKIN.
Ya mungkin ini
kesimpulannya “SIKIL DIBUNTEL SEPATU, MANGKAT.E ESUK KARO GUYA GUYU, KERJANE
TENANAN GAJINE GUYONAN (Kaki dibungkus sepatu, berangkat pagi dengan senyuman,
kerjanya NYATA tapi gajinya BERCANDA)”.
Sungguh pendidikan
HUMANISME perlu diajarkan untuk yang terlibat dlam hal ini......
I <3 Guru Indonesia......
Komentar
Posting Komentar